SRC:www.antaranews.com
Sejumlah supporter Persebaya 1927 atau Bondo Nekad (Bonek) mememenuhi atap KA Sri Tanjung saat melintas di stasiun Madiun, Jatim (ANTARA/Siswowidodo)
Bonek mendukung dengan uang. Bukan tekad saja, entah uang untuk beli tiket itu hasil jualan celana, tabungannya atau apa sajaSurabaya (ANTARA News) - Persepsi keliru di masyarakat soal julukan suporter Persebaya atau yang dikenal bonek (bondo/bekal dan nekat) perlu diluruskan, karena bonek sendiri sebenarnya adalah "bondo dan tekad".
"Bondo yang dimaksud adalah bekal yang bisa diartikan adalah uang, sedangkan tekad adalah kemauan untuk kerja keras. " kata Siti Nasyi`ah.n, pembina Bonek Q di Surabaya, Kamis.
Menurut dia, bukti adanya bondo dan nekad bisa dilihat dalam setiap kali pertandingan. Panitia pelaksana (panpel) tidak mendapatkan pemasukan tidak sedikit.
"Itu berarti Bonek mendukung dengan uang. Bukan tekad saja, entah uang untuk beli tiket itu hasil jualan celana, tabungannya atau apa saja," kata mantan wartawati Jawa Pos dari 1991-2002.
Saat laga dengan Arema di stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada 3 Januari, Panpel dapat pemasukan Rp1,2 miliar. "Ini angka fantastik dari pertandingan Persebaya di tahun ini," katanya.
Ita mengatakan besarnya nama Bonek selama ini karena fanatisme suporter yang menjadikan anak-anak atau siapa saja ingin menjadi Bonek. Apalagi, Bonek juga diilhami dari kenekatan Arek-arek Suroboyo dalam melawan dan mengusir penjajah.
Semangat berjuang yang tinggi dan fanatisme terhadap Persebaya itulah yang menjadikan Bonek bisa disamakan bela tim dan bela negara.
"Mengapa begitu, hanya demi Persebaya puluhan nyawa sudah melayang. Tetesan darah sudah dikorbankan," katanya.
Di balik nama Bonek, sejumlah orang kemudian mencederainya dengan cara kriminal, misalkan dengan menjarah, makan tidak bayar.
"Kebanyakan Bonek yang begini ini adalah Bonek abal-abalan karena Bonek sejati adalah Bonek yang berkomunitas," katanya.
(A024)
No comments:
Post a Comment