waktubaca

  • HOME
  • About Us
  • Contact Us
  • National
  • Politics
  • Business
  • e-Paper
  • Sains
  • Sport
  • World
  • Opinion
  • Music
  • Video
  • Download
  • Site Map
  • More
skip to main | skip to sidebar

Nonton film sedih dapat membuat bahagia

Written By cripto on Saturday, April 7, 2012 | 6:00 PM

Film yang membuat berlinang air mata seperti  "Titanic" berakhir dengan sedih namun film itu sangat populer. Kini para ahli telah menemukan penyebabnya.
SRC:www.antaranews.com

Titanic (titanicuniverse.com)

penonton mengingat orang yang mereka cintai dan bersyukur."





Jakarta (ANTARA News) - Film yang membuat berlinang air mata seperti  "Titanic" berakhir dengan sedih namun film itu sangat populer. Kini para ahli telah menemukan penyebabnya.

Peneliti Universitas Negeri Ohio mengungkapkan menonton film tragedi menyebabkan orang membayangkan tentang hubungan mereka dengan orang-orang dekat, dan pada prosesnya hal ini dapat meningkatkan kebahagiaan.

Kepala penelitian itu, Silvia Knobloch-Westerwick mengatakan, "Cerita tragis sering fokus pada tema cinta  abadi. Hal itu membuat penonton mengingat orang yang mereka cintai dan bersyukur."

Kunci kebahagiaan  adalah dengan menjadikan  film itu sebagai refleksi dalam hubungan kita dengan orang-orang terdekat.Semakin banyak  kita  melakukan itu, kita akan semakin bahagia.

Penonton yang memiliki sifat egois akan menyikapi film seperti itu dengan "hidup saya tidak seburuk tokoh-tokoh dalam film-film tersebut yang tidak bahagia."

Knobloch-Westerwick mengatakan kajian itu adalah yang pertama dalam pendekatan ilmiah untuk menjelaskan mengapa orang menikmati film tragedi fiksi padahal membuat mereka sedih.

"Para filsuf telah mempertimbangkan pertanyaan ini selama ribuan tahun, tapi belum ada pendekatan ilmiah," katanya.

Penelitian itu melibatkan 361 mahasiswa yang menonton ulasan singkat film Atonement (2007) yang melibatkan sepasang kekasih yang terpisah dan meninggal akibat peperangan.

Sebelum, selagi dan setelah menonton film sebanyak tiga kali, para responden ditanya beberapa hal tentang ukuran kebahagiaan dalam kehidupan mereka.Mereka juga ditanya tentang perasaan seperti kesedihan.

Orang yang sangat sedih ketika menonton film itu cenderung menulis tokoh-tokoh nyata yang dekat dengan mereka.

"Orang-orang menggunakan tragedi untuk mencerminkan hubungan penting dalam kehidupan mereka, untuk mensyukuri keberadaan mereka," katanya.

"Hal itu dapat menjelaskan mengapa film tragedi yang begitu populer, meskipun mengisahkan cerita sedih."

Para peneliti juga menguji teori bahwa orang merasa lebih bahagia setelah melihat film tragedi karena mereka dapat membandingkan diri mereka dengan tokoh dalam film tersebut dan merasa baik bahwa kehidupan mereka tidak seburuk tokoh-tokoh yang ada dalam film tersebut. Tenyata, hasilnya tidak begitu.

Orang-orang yang setelah menonton film tersebut lebih memikirkan diri mereka, bukan hubungan dekat mereka dengan orang lain,  tidak menunjukan peningkatan kebahagiaan.

"Bukan tragedi dalam film yang meningkatkan kebahagiaan hidup, tapi karena penonton jadi berpikir lebih tentang diri mereka sendiri. Orang jadi menghargai hubungan yang mereka punya, "kata Knobloch-Westerwick.

"Emosi negatif, misalnya kesedihan, membuat anda berpikir lebih kritis tentang situasi anda. Jadi, melihat film tragis seperti kisah cinta segi tiga mungkin dapat membuat anda sedih, tapi itu akan menyebabkan anda untuk berpikir lebih tentang hubungan anda sendiri dan lebih menghargai."

Menurut Knobloch-Westerwick, penelitian itu juga menunjukkan bahwa hubungan adalah sumber utama kebahagiaan dalam hidup kita, sehingga tidak mengherankan bahwa berpikir tentang orang yang anda cintai akan membuat anda lebih bahagia.

Dia menambahkan, "Tragedi mengingatkan hubungan yang erat, dan membuat kita bahagia."
(adm)

Posted by cripto at 6:00 PM
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Popular Posts Today

  • Batik "mbeling" gunakan pewarna dari rumput laut
    Perajin batik dari Pekalongan, Harris Riadi memilih mewarnai batik "mbeling" buatannya dengan pewarna alami dari rumput laut.
  • Hasil dan klasemen ISL 2011-2012
    Berikut ini hasil dan klasemen Indonesia Super League (ISL) 2011-2012, Sabtu: Deltras vs Persisam 1-3 Jumat:Persipura vs PSPS 2-1Persida...
  • Schumacher kembali naiki podium F1
    Michael Schumacher membuat kejutan kemarin ketika mengakhiri perlombaan Formula Satu (F1) dengan naik ke podium--ini adalah untuk pertama ...
  • Warga Tionghoa Singkawang gelar "cheng beng"
    Ratusan warga Tionghoa Kota Singkawang menggelar sembahyang "Cheng Beng" atau berziarah ke makam orang tua, keluarga maupun leluhu...
  • Kontras desak kepolisian usut kekerasan oknum Zeni Kostrad
    Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak kepolisian untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengeroyokan yang d...
  • Pemimpin EU hindari Ukraina terkait kasus Tymoshenko
    Ukraina menghadapi isolasi yang semakin bertambah Senin ketika lima presiden dan seorang ketua EU menyatakan berencana absen pada pertemuan ...
  • Nilai ekspor produk rotan 27 juta dolar
    Kebijakan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang menutup kran ekspor bahan baku rotan mulai terlihat hasilnya dan nilai ekspor telah mamp...
  • Rio Haryanto tempati peringkat ke-9 di Bahrain
    Pebalap nasional asal Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Rio Haryanto, menempati peringkat kesembilan pada race pertama lomba balap mobil G...
  • Gubernur Kalsel instruksikan pembatasan pembelian premium
    Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengeluarkan instruksi pembatasan pembelian premium di SPBU untuk mengurangi terjadinya antrean pan...
  • BNP2TKI: Timor Leste butuh banyak TKI
    Deputi Kerja Sama Luar Negeri & Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Endang Sulistiyaningsi men...
 
Copyright © 2011. waktubaca . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Herdiansyah. Published by Borneo Templates