waktubaca

  • HOME
  • About Us
  • Contact Us
  • National
  • Politics
  • Business
  • e-Paper
  • Sains
  • Sport
  • World
  • Opinion
  • Music
  • Video
  • Download
  • Site Map
  • More
skip to main | skip to sidebar

Pemilu Prancis di tengah prinsip yang tergerus

Written By cripto on Wednesday, April 25, 2012 | 5:00 PM

Selagi warga Perancis bersiap memilih pemimpin pembawa aspirasi mereka, kaum pendatang melihat Prancis kini sudah tak lagi teguh memegang asas kesetaraan dan persaudaraan.
SRC:www.antaranews.com

Presiden Prancis dan calon presiden pemilu 2012 Prancis dari partai UMP Nicolas Sarkozy, mengakhiri pidatonya dalam sebuah kampanye di Paris, Minggu (15/4). (REUTERS/Gonzalo Fuentes)



Paris (ANTARA News) - Selagi warga Perancis bersiap memilih pemimpin pembawa aspirasi mereka, kaum pendatang melihat Prancis kini sudah tak lagi teguh memegang asas kesetaraan dan persaudaraan.

Bekas negeri penjajah dan pusat kebudayan dunia itu menarik banyak orang asing untuk hidup di sana. Namun kini, banyak warga pribumi gelisah karena harus hidup berdampingan dengan pendatang.

Para pendatang menuduh warga Perancis asli kerap bersikap rasis dan sombong, tapi itu tak sepenuhnya benar.

"Negara ini adalah negeri ideal bagi banyak orang", ujar Jamal Sow (35), mahasiswa dari Mauritania yang sedang menyelesaikan disertasinya di Sorbonne.

"Perancis adalah tempat kekayaan intelektual dan kestabilan politik membuat demokrasi berjalan baik," ujarnya. "Tapi saat ada di sini, Anda akan menyadari betapa susahnya mencari pekerjaan atau tempat tinggal", jelas Jamal, yang pernah memulung dari tempat sampah untuk bisa hidup.

Pria ini merasakan kehidupan menjadi lebih berat lagi dibanding sembilan tahun silam saat pertama kali dia tiba di Prancis.  4 juta orang menganggur di Prancis dan semua orang merasa bakal kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu.

Foad Saberan, psikiater kelahiran Iran yang dibesarkan di Tunisia dan sekarang bekerja di Paris, melihat ketakutan akan hilangnya status atau diabaikan.

"Ada beberapa kelompok yang menggalang solidaritas nasional, melawan penganguran yang dijamin uang negara, yang mengakibatkulu an timbulnya budaya malas. Ini menekan kaum lemah dan terpinggirkan, terutama para pendatang", ujar lelaki 70 tahun itu.

Dulu kambing hitam nasional dilemparkan ke arah kaum komunis dan serikat kerja, namun kini sermua diarahkan ke kaum pendatang terutama orang Afrika Utara.

Bagi banyak orang, kampanye anti pendatang dalam pemilihan presiden sekarang,  mencerminkan kebencian yang kadang tidak tampak dari kehidupan sehari-hari.

"Prancis adalah negara di mana Anda bisa bicara tanpa peduli," ujar Ahmed (35thn), tukang kebun asal Maroko yang mempunya tiga orang anak kelahiran Paris.

"Hidup itu keras, harus diperjuangkan, tapi di sini anak-anak dapat membuat keputusan sendiri mengenai masa depannya," ujarnya.

Tapi bagi Salome Anaba, pendatang asal Kamerun yang menjadi guru sekolah dasar di Prancis, impian kesetaraan itu sulit diwujudkan. "Kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan hanya slogan kosong belaka", katanya.

"Slogan tersebut mungkin cocok untuk orang kaya, namun tidak untuk mayoritas orang miskin. Dengan kemampuan yang sama, seorang berkulit hitam dari pinggiran kota punya kesempatan yang lebih kecil untuk bekerja dibandingkan orang Paris kulit putih," kata Ahmed.

Tudor Vaideanu, seorang dokter gigi kelahiran Rumania punya pendapat beda. Ia masih melihat Prancis tanah peluang untuk menggantungkan harapan-harapannya.

Sementara isi hati dan harapan warga pendatang Prancis itu bersuara. putaran pertama pemilihan presiden Prancis baru akan berlangsung hari Minggu nanti (22/4).

Jajak pendapat menunjukkan bahwa kandidat kaum sosialis, Francois Hollande sedang berada di jalur menggulingkan inkumben sayap kanan Nicolas Sarkozy. (*)

Posted by cripto at 5:00 PM
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Popular Posts Today

  • Hasil dan klasemen ISL 2011-2012
    Berikut ini hasil dan klasemen Indonesia Super League (ISL) 2011-2012, Sabtu: Deltras vs Persisam 1-3 Jumat:Persipura vs PSPS 2-1Persida...
  • Batik "mbeling" gunakan pewarna dari rumput laut
    Perajin batik dari Pekalongan, Harris Riadi memilih mewarnai batik "mbeling" buatannya dengan pewarna alami dari rumput laut.
  • Kontras desak kepolisian usut kekerasan oknum Zeni Kostrad
    Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak kepolisian untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengeroyokan yang d...
  • BNP2TKI: Timor Leste butuh banyak TKI
    Deputi Kerja Sama Luar Negeri & Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Endang Sulistiyaningsi men...
  • Rio Haryanto tempati peringkat ke-9 di Bahrain
    Pebalap nasional asal Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Rio Haryanto, menempati peringkat kesembilan pada race pertama lomba balap mobil G...
  • Schumacher kembali naiki podium F1
    Michael Schumacher membuat kejutan kemarin ketika mengakhiri perlombaan Formula Satu (F1) dengan naik ke podium--ini adalah untuk pertama ...
  • Gubernur Kalsel instruksikan pembatasan pembelian premium
    Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengeluarkan instruksi pembatasan pembelian premium di SPBU untuk mengurangi terjadinya antrean pan...
  • Situs "The Pirate Bay" diblokir di Inggris
    Penyedia layanan internet di  Inggris harus memblokir situs berbagi file, The Pirate Bay, demikian perintah Pengadilan Tinggi Inggr...
  • Gas perut dinosaurus mungkin ikut menghangatkan bumi
    Para peneliti memperhitungkan kemungkinan pelepasan gas metana dari dalam perut dinosaurus ke atmosfer ikut menghangatkan planet bumi pada e...
  • Indonesia bidik Eropa lewat "Tong-Tong Fair"
    Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membidik wisatawan Eropa di Tong-Tong Fair bertema "Java" yang berlangsung di Malievel...
 
Copyright © 2011. waktubaca . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Herdiansyah. Published by Borneo Templates