waktubaca

  • HOME
  • About Us
  • Contact Us
  • National
  • Politics
  • Business
  • e-Paper
  • Sains
  • Sport
  • World
  • Opinion
  • Music
  • Video
  • Download
  • Site Map
  • More
skip to main | skip to sidebar

Koran sudah tak lagi harian

Written By cripto on Saturday, June 23, 2012 | 2:00 PM

Jika ada kota yang sedang membutuhkan kekuatan jurnalisme,  tempat itu pasti New Orleans Amerika Serikat.
SRC:www.antaranews.com

ilustrasi media cetak koran (REUTERS/Luke MacGregor)

Isu bahwa media cetak bisa tersingkir kini bukan teori lagi."





Jakarta (ANTARA News) - Jika ada kota yang sedang membutuhkan kekuatan jurnalisme,  tempat itu pasti New Orleans Amerika Serikat.

Seperti dilansir dari American Journalism Review, sebelum dihantam badai Katrina, kota yang indah itu telah diselimuti berbagai permasalahan sosial, masalah yang seharusnya diawasi ketat oleh media massa.

Setelah Katrina, keberadaan jurnalisme yang penuh tanggung jawab sangat dibutuhkan bagi kota yang berusaha keras untuk membangun kembali wajahnya itu.

Justru pada saat penting seperti sekarang, media cetak di kota tersebut, Times-Picayune, memutuskan hanya terbit tiga kali seminggu.

Koran yang bernaung di bawah Newhouse ini juga akan mengencangkan ikat pinggang dan mengurangi jumlah karyawan.

Penerbit Times-Picayune, Ashton Phelps Jr. mengumumkan bahwa korannya hanya terbit tiga hari dalam seminggu: Kamis, Jumat, dan Minggu.

Newhouse sedang membuat usaha baru, NOLA Media Group, yang dideskripsikan Phelps sebagai "perusahaan berfokus digital yang akan diluncurkan di musim gugur ini dan akan mengembangkan cara baru dan inovatif untuk menyampaikan berita dan informasi via online dan pembaca dari ponsel,".

Tentu saja ada pemutusan hubungan kerja walau detilnya tidak disebutkan oleh Phelps.

Gambit, media mingguan alternatif di New Orleans, menyebutkan pegawai Times-Picayune akan dikurangi setidaknya sepertiganya (dari 150 reporter menjadi 100 atau kurang dari itu).

Tidak heran bila media online menjadi pilihan saat ini. Sirkulasi koran memang menurun seiring hidup masyarakat yang semakin bergantung pada digital. Bukan hal mengejutkan bila media harian kini tidak muncul setiap hari.

"Isu bahwa media cetak bisa tersingkir kini bukan teori lagi," ungkap konsultan media Alan Mutter.

Faktanya, Newhose sudah membuktikan teori itu sejak lama. Tiga tahun lalu, media Ann Arbor News menjadi portal berita online pertama dengan edisi cetak hanya dua kali seminggu.

Newhouse juga mengumumkan akan mengurangi frekuensi cetak tiga koran di Alabama hanya terbit sebanyak tiga kali seminggu.

Selain mengurangi jadwal terbit, bagian-bagian yang tidak meraih profit gendut pun dihilangkan. Yang tersisa hanyalah edisi yang menguntungkan.

Media massa New Orleans di masa depan tidak bergantung pada seberapa sering media konvensional seperti koran akan dicetak, tapi kualitas beritanya.

Phelps menyatakan Times-Picayune edisi baru akan terbit sebagai "koran yang lebih hebat" dengan edisi terbit yang terbatas. Jika itu memang yang akan terjadi  yaitu  koran-koran dan NOLA.COM dipenuhi laporan bagus, tentu ini kabar baik. Yang terpenting tentunya selalu kualitas jurnalisme, bukan platform yang dipakai untuk menyebarkan berita tersebut.

Tapi bagaimana jika hal itu tidak terjadi? Jika benar pengurangan karyawan akan berlangsung besar-besaran, tentu semakin sedikit sumber daya manusia. Padahal, mereka mengurusi portal berita dan tiga edisi media cetak tiap minggu. Harap ingat, berita bermutu tentu perlu komitmen serius.

Menurut laporan The Times, dua orang editor utama juga akan angkat kaki. Pengelolaan lembaga pemberitaan yang baru tapi tanpa panduan  pemimpin berpengalaman tentu bukan hal bagus.

Kekhawatiran lain muncul: situs NOLA.COM yang baru didesain ulang tidak terlihat seperti jurnalisme yang bertujuan melayani masyarakat.

Jika restrukturisasi radikal di New Orleans ini menghasilkan media baru yang masih berpegang teguh pada prinsip jurnalisme sebenarnya, semua orang bisa bernafas lega.

Tapi jika ada udang di balik batu, bila itu hanyalah akal-akalan untuk mengurangi pengeluaran dan melupakan fungsinya sebagai pelayan masyarakat, maka ini adalah tragedi dan aib yang memalukan.

 (nan)


Posted by cripto at 2:00 PM
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Popular Posts Today

  • Kontras desak kepolisian usut kekerasan oknum Zeni Kostrad
    Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak kepolisian untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengeroyokan yang d...
  • Hasil dan klasemen ISL 2011-2012
    Berikut ini hasil dan klasemen Indonesia Super League (ISL) 2011-2012, Sabtu: Deltras vs Persisam 1-3 Jumat:Persipura vs PSPS 2-1Persida...
  • Batik "mbeling" gunakan pewarna dari rumput laut
    Perajin batik dari Pekalongan, Harris Riadi memilih mewarnai batik "mbeling" buatannya dengan pewarna alami dari rumput laut.
  • Warga Tionghoa Singkawang gelar "cheng beng"
    Ratusan warga Tionghoa Kota Singkawang menggelar sembahyang "Cheng Beng" atau berziarah ke makam orang tua, keluarga maupun leluhu...
  • Schumacher kembali naiki podium F1
    Michael Schumacher membuat kejutan kemarin ketika mengakhiri perlombaan Formula Satu (F1) dengan naik ke podium--ini adalah untuk pertama ...
  • Riwayat hidup Roger Federer
    Berikut ini data dan fakta petenis Swiss, Roger Federer, yang meraih gelar juara untuk ketujuh kalinya dalam turnamen itu setelah menang pad...
  • Pasukan PBB dan Kongo serang pemberontak
    Pasukan PBB dan tentara Republik Demokratik Kongo (DRC) menggunakan helikopter-helikopter tempur Kamis menyerang tentara yang memberontak ya...
  • Pemimpin EU hindari Ukraina terkait kasus Tymoshenko
    Ukraina menghadapi isolasi yang semakin bertambah Senin ketika lima presiden dan seorang ketua EU menyatakan berencana absen pada pertemuan ...
  • Nilai ekspor produk rotan 27 juta dolar
    Kebijakan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang menutup kran ekspor bahan baku rotan mulai terlihat hasilnya dan nilai ekspor telah mamp...
  • RI kecewa ASEAN gagal capai kesepakatan soal Laut China Selatan
    Indonesia kecewa terhadap hasil pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, yang tidak berhasil menyatukan pandangan so...
 
Copyright © 2011. waktubaca . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Herdiansyah. Published by Borneo Templates