waktubaca

  • HOME
  • About Us
  • Contact Us
  • National
  • Politics
  • Business
  • e-Paper
  • Sains
  • Sport
  • World
  • Opinion
  • Music
  • Video
  • Download
  • Site Map
  • More
skip to main | skip to sidebar

"Masalah pergulaan nasional tidak kunjung usai"

Written By cripto on Friday, July 6, 2012 | 6:00 PM

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengemukakan, masalah pergulaan nasional tidak kunjung usai selama bertahun-tahun antara lain akibat banyaknya kepentingan terutama antarinstansi pemerintah terkait gula.
SRC:www.antaranews.com

Ilustrasi - Seorang pekerja melakukan pengecekan kereta lori pengangkut tebu di Pabrik Gula Rendeng, Kudus, Jateng.(FOTO ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Kemampuan pemerintah menangani mulai dari produksi, perdagangan, hingga distribusinya belum begitu baik.

Sibolga (ANTARA News) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengemukakan, masalah pergulaan nasional tidak kunjung usai selama bertahun-tahun antara lain akibat banyaknya kepentingan terutama antarinstansi pemerintah terkait gula.

"Kemampuan pemerintah menangani mulai dari produksi, perdagangan, hingga distribusinya belum begitu baik," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur, Jumat.

Menurut Natsir Mansyur, setiap tahun permasalahan gula selalu sama seperti ritual tahunan yaitu pasokan kurang, harga tinggi, dan saling tuding antara lembaga kementerian, PTPN (PT Perkebunan Nusantara), dan produsen gula rafinasi telah terjadi selama enam tahun terakhir.

Padahal, ujar dia, masalah pergulaan nasional diakibatkan oleh tidak seimbangnya antara pasokan dan permintaan, atau lebih spesifik karena kerap terjadi kekurangan pasokan sementara permintaan banyak mengalir dan diwarnai dengan manajemen pergulaan nasional yang belum memperlihatkan perbaikan dari tahun ke tahun.

Ia berpendapat, kemampuan PTPN sebagai produsen gula terbesar untuk melayani kebutuhan gula nasional jauh dari harapan dan Dewan Gula Indonesia (DGI) sebagai lembaga yang menghimpun pelaku pergulaan nasional juga tidak mampu menjalankan fungsinya.

"Ditambah lagi fungsi pengawasan panja gula DPR RI yang kurang optimal, dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) sulit membongkar kartel gula," kata Natsir Mansyur.

Ia juga mengatakan, sanksi perembesan gula kristal rafinasi oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan dinilai tidak transparan dan tidak tegas yang akhirnya mengakibatkan kebutuhan gula di daerah sulit terpenuhi dan harga yang tinggi.

Untuk mengurangi permasalahan pergulaan nasional, kata Natsir, ada beberapa hal yang harus menjadi fokus perhatian antara lain pengadaan gula konsumsi untuk kebutuhan daerah perlu diatur oleh Pemerintah Daerah, Kadin dan Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti).

Selain itu, lanjutnya, Kemenperin agar membuka izin industri gula rafinasi di kawasan timur Indonesia (KTI) sehingga pelaku gula yang lain bisa berinvestasi membangun industri gula rafinasi.

"Sudah saatnya produsen gula rafinasi di KTI yang sudah ada selama ini tidak dilindungi lagi," katanya.

Wakil Ketua Umum Kadin juga mengatakan, hal lainnya yang harus menjadi fokus adalah kebutuhan gula konsumsi untuk daerah perbatasan melalui impor dari negara tetangga harusnya dapat terpenuhi sehingga masyarakat perbatasan jangan dibebani dengan urusan yang sulit untuk mengatasi kebutuhan pangan gula.

(M040 )

Posted by cripto at 6:00 PM
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Popular Posts Today

  • Batik "mbeling" gunakan pewarna dari rumput laut
    Perajin batik dari Pekalongan, Harris Riadi memilih mewarnai batik "mbeling" buatannya dengan pewarna alami dari rumput laut.
  • Hasil dan klasemen ISL 2011-2012
    Berikut ini hasil dan klasemen Indonesia Super League (ISL) 2011-2012, Sabtu: Deltras vs Persisam 1-3 Jumat:Persipura vs PSPS 2-1Persida...
  • Schumacher kembali naiki podium F1
    Michael Schumacher membuat kejutan kemarin ketika mengakhiri perlombaan Formula Satu (F1) dengan naik ke podium--ini adalah untuk pertama ...
  • Warga Tionghoa Singkawang gelar "cheng beng"
    Ratusan warga Tionghoa Kota Singkawang menggelar sembahyang "Cheng Beng" atau berziarah ke makam orang tua, keluarga maupun leluhu...
  • Kontras desak kepolisian usut kekerasan oknum Zeni Kostrad
    Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak kepolisian untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengeroyokan yang d...
  • Pemimpin EU hindari Ukraina terkait kasus Tymoshenko
    Ukraina menghadapi isolasi yang semakin bertambah Senin ketika lima presiden dan seorang ketua EU menyatakan berencana absen pada pertemuan ...
  • Nilai ekspor produk rotan 27 juta dolar
    Kebijakan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang menutup kran ekspor bahan baku rotan mulai terlihat hasilnya dan nilai ekspor telah mamp...
  • Rio Haryanto tempati peringkat ke-9 di Bahrain
    Pebalap nasional asal Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Rio Haryanto, menempati peringkat kesembilan pada race pertama lomba balap mobil G...
  • Gubernur Kalsel instruksikan pembatasan pembelian premium
    Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengeluarkan instruksi pembatasan pembelian premium di SPBU untuk mengurangi terjadinya antrean pan...
  • BNP2TKI: Timor Leste butuh banyak TKI
    Deputi Kerja Sama Luar Negeri & Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Endang Sulistiyaningsi men...
 
Copyright © 2011. waktubaca . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Herdiansyah. Published by Borneo Templates